TIGA JENIS NGABEN DAN PENJELASANNYA SECARA LENGKAP

 


Berikut 3 jenis ngaben yang paling umum di Bali beserta penjelasan ringkas namun lengkap.

 

1. Ngaben Sawa Wedana (ngaben langsung dengan jenazah)

ü  Kapan dipilih: Saat keluarga siap melaksanakan kremasi tanpa masa penguburan sementara.

ü  Inti prosesi:

ü  Persiapan: menentukan dewasa ayu (hari baik), menata upakara/banten, menyiapkan wadah/bade dan patulangan (sering berupa “lembu”).

ü  Penyucian sawa: memandikan dan menyucikan jenazah (penglukatan), membungkus rapi.

ü  Arak-arakan: sawa diusung dalam bade menuju setra; di perempatan (catus pata) biasanya diputar sebagai simbol memutus ikatan duniawi.

ü  Pembakaran: sawa ditempatkan pada patulangan (lembu), api suci (Brahma) dinyalakan dengan mantra; setelah selesai, sisa tulang/abu dikumpulkan.

ü  Nganyut: abu dilarung ke laut/sungai (segara/tukad).

ü  Pasca-ngaben: upacara penyucian lanjutan (nyekah/mukur) agar atma “naik” menjadi Dewa Pitara dan dapat “elinggih” di merajan/sanggah keluarga.

ü  Ciri khas: prosesi paling lengkap dengan kehadiran jenazah; kebutuhan sarana relatif besar.

 

2. Ngaben Asti Wedana (kremasi tulang/asti)

-       Kapan dipilih: Bila jenazah sebelumnya dikubur (mendem sawa) untuk menunggu dana, waktu, atau ngaben massal; setelah itu, tulang diangkat.

-       Inti prosesi:

-       Ngagah: pengangkatan tulang dari kubur pada hari baik; tulang dibersihkan dan disucikan (asti).

-       Rangkaian ngaben: hampir sama dengan Sawa Wedana, tetapi yang dibakar adalah “asti” (tulang yang telah disucikan), biasanya dalam patulangan yang lebih kecil.

-       Nganyut dan pasca-ngaben: sama—abu dilarung, lalu nyekah/mukur.

-       Ciri khas: lebih ringan logistik dibanding Sawa Wedana; umum pada ngaben massal desa adat.

 

3. Ngaben Swasta (tanpa sawa/pengganti)

ü  Kapan dipilih: Bila jasad tidak ada/tidak dapat dihadirkan (hilang di laut, bencana, atau sebab lain).

ü  Inti prosesi:

ü  Pangawak/arca pengganti: dibuat sebagai representasi badan kasar almarhum dari bahan-bahan suci (mis. kayu cendana, daun/bahan tetumbuhan, benang, dan sarana upakara).

ü  Rangkaian ngaben: prosesi serupa—arak-arakan, pembakaran pangawak dalam patulangan, pengumpulan abu simbolik, nganyut, lalu upacara pasca-ngaben (nyekah/mukur).

ü  Ciri khas: fokus pada tatanan niskala/rohani; secara tattwa statusnya setara untuk mengantarkan atma.

 

Unsur yang sama pada ketiganya

o   Tujuan: Pitra Yadnya—mengembalikan unsur Panca Mahabhuta ke alam dan mengantar atma menuju leluhur (Dewa Pitara).

o   Penentu hari: selalu memakai dewasa ayu menurut sabda Sulinggih/pemangku.

o   Sarana: banten/upakara, bade/wadah, patulangan (lembu atau bentuk lain), gamelan/baleganjur (opsional adat setempat).

o   Puncak: pembakaran (api Brahma), pengumpulan sisa (tulang/abu), nganyut ke segara/tukad.

o   Pasca: nyekah/mukur dan kemudian ngelinggihang Dewa Hyang di merajan.

 

Catatan penting

Ø  Tata cara dan istilah bisa berbeda antar desa adat (desa–kala–patra) dan kesepakatan keluarga; beberapa daerah juga mengenal ngaben massal, serta sub-jenis seperti upacara untuk anak (ngelungah).

Ø  Detail teknis sebaiknya mengikuti tuntunan Sulinggih/pemangku dan awig-awig setempat.