Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara imajinatif atau kiasan. Tujuannya adalah untuk membuat karya sastra atau percakapan menjadi lebih hidup, berkesan, dan memiliki efek emosional tertentu bagi pembacanya.
1.
Majas Metafora (Perbandingan Langsung)
Menggunakan
kata kiasan yang mewakili persamaan, bukan makna sebenarnya.
- Si Jago
Merah melahap habis rumah warga. (Api)
- Perpustakaan
adalah gudang ilmu. (Tempat banyak ilmu)
- Dia
menjadi anak emas di kelasnya. (Anak kesayangan)
- Pria
itu terkenal panjang tangan. (Suka mencuri)
- Dia
memang buaya darat. (Pria tidak setia)
- Masalah
harus diselesaikan dengan kepala dingin. (Sabar/tenang)
- Ibuku
dulu adalah kembang desa. (Gadis tercantik)
- Jangan
jadi otak udang. (Malas/bodoh)
- Perempuan
itu tulang punggung keluarganya. (Pencari nafkah utama)
- Pejabat
itu harus berhati-hati dengan tikus berdasi. (Koruptor)
2.
Majas Personifikasi (Benda Mati Bertingkah Laku)
Memberikan
sifat manusia pada benda mati.
- Angin berbisik lembut
di telingaku.
- Pena
itu menari-nari di atas kertas.
- Laut
yang biru menatapku dalam keheningan.
- Awan menangis siang
itu.
- Laptopku kelelahan karena
digunakan semalam suntuk.
- Matahari bangun terlalu
pagi.
- Ombak kejar-kejaran di
tepi pantai.
- Sirine
ambulans menjerit memecah kesunyian.
- Daun-daun berjoget diterpa
angin.
- Kabut
tebal menyelimuti kota.
3.
Majas Hiperbola (Berlebihan)
Mengungkapkan
sesuatu secara berlebihan, bahkan sering tidak masuk akal.
- Dia memeras
keringat untuk menafkahi keluarga. (Bekerja keras)
- Suaranya menggelegar
membelah angkasa.
- Lari
maraton itu membuat kakiku terasa mau lepas.
- Hatinya hancur
remuk mendengar kabar itu.
- Harga
rumah itu selangit.
- Dia
menangis sampai air matanya habis.
- Cita-citanya setinggi
langit.
- Dia
menghabiskan makanan itu secepat kilat.
- Suaranya memecahkan
gendang telinga.
- Antrean
itu mengular hingga satu kilometer.
4.
Majas Asosiasi (Perbandingan/Persamaan)
Membandingkan
dua hal berbeda namun dianggap sama, memakai kata seperti, bak, bagai,
laksana.
- Semangatnya
keras seperti baja.
- Sita
dan Siti bak pinang dibelah dua. (Sangat mirip)
- Pikirannya
kusut bagai benang dilanda ayam.
- Senyumnya laksana bunga
yang masih ranum.
- Anton
bekerja seperti kerbau yang membajak sawah.
- Kulitmu
halus seperti kapas putih.
- Pikirannya
encer bak santan kelapa.
5.
Majas Litotes
Majas
Litotes adalah gaya bahasa yang digunakan untuk
menyatakan sesuatu dengan cara merendahkan diri. Tujuannya bukan
untuk berbohong, melainkan untuk menjaga kesopanan atau etika agar tidak
terkesan sombong (kebalikan dari hiperbola).
- "Silakan
mampir ke gubuk reot kami ini."
(Maksudnya: Menyebut rumah sendiri yang sebenarnya layak atau bagus dengan sebutan gubuk). - "Apalah
daya saya, hanya orang kecil yang tak punya
apa-apa."
(Maksudnya: Seseorang yang sebenarnya memiliki jabatan atau kemampuan namun tetap rendah hati). - "Terimalah tanda
kasih yang tidak seberapa ini."
(Maksudnya: Memberi hadiah yang mungkin bernilai mahal namun menyebutnya tidak berharga). - "Makanlah
seadanya dengan lauk yang alakadarnya."
(Maksudnya: Menyajikan hidangan yang lengkap namun tetap merendah). - "Saya
hanyalah sebutir debu di luasnya dunia ini."
(Maksudnya: Merasa diri tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Tuhan atau alam). - "Maaf
jika jamuan kami ini tidak berkenan di hati Anda."
(Maksudnya: Padahal sudah memberikan pelayanan maksimal kepada tamu). - "Tulisan
saya yang acak-acakan ini jangan terlalu
diperhatikan."
(Maksudnya: Penulis hebat yang menganggap karyanya masih butuh banyak perbaikan). - "Saya
hanya beruntung bisa lulus, padahal otak saya pas-pasan."
(Maksudnya: Padahal dia belajar sangat keras dan memang pintar). - "Usaha kecil-kecilan saya
ini hanya untuk menyambung hidup."
(Maksudnya: Digunakan oleh pengusaha yang bisnisnya sebenarnya sudah berkembang pesat). - "Mungkin suara
sumbang saya ini akan merusak suasana."
(Maksudnya: Dikatakan oleh penyanyi atau pembicara sebelum memulai aksinya sebagai bentuk kerendahan hati).