Showing posts with label Agama Islam. Show all posts
Showing posts with label Agama Islam. Show all posts

KEUTAMAAN SHALAT

 

Abdullah bin Umar Radhiyallaahu ‘anhuma  berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ


“Islam dibangun atas lima pondasi: Yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi

Dari Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:


أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ


“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21)


Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:


إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ


“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui-, “Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413, An-Nasai no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571)


 


Penjelasan ringkas:


Shalat merupakan rukun Islam kedua dan merupakan amalan yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam- menjadikannya sebagai penjaga darah dan harta, sehingga kapan seseorang meninggalkannya maka darah dan hartanya akan terancam. Karena sangat pentingnya shalat ini, sampai-sampai dialah amalan pertama yang hamba akan dihisab dengannya pada hari kiamat. Di dalam hadits Ibnu Mas’ud secara marfu’ disebutkan:


أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ


“Amalan pertama yang dengannya seorang hamba dihisab adalah shalat dan sesuatu pertama yang diputuskan di antara para manusia adalah mengenai darah.” (HR. An-Nasai no. 3926 dan selainnya)


Maksudnya, amalan yang berhubungan antara hamba dengan Allah, maka yang pertama kali dihisab darinya adalah shalat. Sementara amalan berhubungan antara makhluk dengan makhluk lainnya, maka yang pertama kali dihisab adalah dalam masalah darah.


Hadits Abu Hurairah di atas juga menunjukkan keutamaan shalat sunnah secara khusus, bahwa dia dijadikan sebagai penyempurna dari kekurangan yang terjadi dalam shalat wajib, baik kekurangan dari sisi pelaksanaan zhahir maupun kekurangan dari sisi batin dan roh shalat tersebut, yaitu kekhusyuan. Wallahu a’lam

ADA BERAPA SHALAT SUNNAH BA'DIYYAH & QABLIYYAH?

 



Pertanyaan:

Assalamu’alaikum .. Shalat Ba’diyyah dan Qobliyyah ada berapa? Benarkah ada shalat qabliyyah sebelum ashar, maghrib dan isya’?

 Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi

Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Saudaraku penanya…


Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk istiqamah di dalam beribadah kepada-Nya…

Berikut penjelasan tentang shalat sunnat rawatib (qabliyyah dan ba’diyyah); 

1.Shalat sunnat rawatib yang mu'akkadah jumlahnya 12 raka'at atau 10 raka'at, dalilnya: 

أُمَّ حَبِيبَةَ رضي الله عنها تَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ »


Artinya Ummu Habibah radhiyallahu 'anha berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang shalat 12 raka'at di dalam sehari semalam maka dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga". Hadits riwayat Muslim (no. 728)

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ »


Artinya: "Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim shalat sunnah untuk Allah setiap hari sebanyak 12 raka'at selain shalat wajib, melainkan Allah telah membangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga atau melainkan telah dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga". Hadits riwayat Muslim (no. 728)

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ »


Artinya: "Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang shalat di dalam sehari dan semalam 12 raka'at maka dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga, (12 raka'at tersebut) adalah 4 raka'at sebelum Zhuhur, 2 raka'at setelahnya, 2 raka'at setelah Maghrib, 2 raka'at setelah Isya' dan 2 raka'at sebelum Fajar". Hadits riwayat Tirmidzi (no. 414) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahihut Tirmidzi (1/131)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما – قَالَ: حَفِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - عَشْرَ رَكَعَاتٍ, رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ.


Artinya: "Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Telah aku hapal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 10 raka'at; 2 raka'at sebelum Zhuhur, 2 raka'at setelahnya, 2 raka'at setelah Maghrib di rumahnya, 2 raka'at setelah Isya' di rumahnya dan 2 raka'at sebelum shalat shubuh". Hadits riwayat Bukhari (no. 1172) 

2. Shalat rawatib yang tidak mu'akkadah dikerjakan bersamaan dengan shalat fardhu: 

قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ زَوْجُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- رضي الله عنها: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ »


Artinya: "Ummu Habibah Istri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang selalu menjaga 4 raka'at sebelum Zhuhur dan 4 raka'at setelahnya maka diharamkan atasnya neraka". Hadits riwayat Ahmad (6/326), Abu Daud (no. 1269) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam shahih Sunan Ibnu majah (1/191)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا ».


Artinya: "Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah merahmati seseorang yang shalat 4 raka'at sebelum Ashar". Hadits riwayat Ahmad (2/117), Abu Daud (no. 1271) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam shahih Sunan Abu Daud (1/237). 

Adapun untuk shalat qabliyyah sebelum Maghrib dan Isya’, bisa dikerjakan dua rakaat, dengan dalil:

عَنْ عَبْد اللَّهِ الْمُزَنِىِّ رضي الله عنه, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ ». ثُمَّ قَالَ « صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ ». ثُمَّ قَالَ عِنْدَ الثَّالِثَةِ « لِمَنْ شَاءَ ». كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً.


Artinya: "Dari Abdullah Al Muzani radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shalatlah 2 raka'at sebelum Maghrib", kemudian bersabda lagi: "Shalatlah 2 raka'at sebelum Maghrib", kemudian bersabda lagi: "Bagi siapa yang menghendaki". Hadits riwayat Bukhari (no. 1183)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ - قَالَهَا ثَلاَثًا قَالَ فِى الثَّالِثَةِ - لِمَنْ شَاءَ ».


Artinya: “Abdullah bin Mughaffal al Muzani radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diantara dua adzan terdapat shalat – beliau mengatakannya sebanyak tiga kali dan pada kali yang ketiga beliau bersabda – bagi siapa yang menghendakinya”. HR. Bukhari dan Muslim. 

Maksud dari dua adzan disini adalah adzan dan iqamah, mari perhatikan penjelasan para ulama:

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قوله بين كل أذانين أي أذان وإقامة ولا يصح حمله على ظاهرة لأن الصلاة بين الأذانين مفروضة


Artinya: “Sabda beliau: “Diantara dua adzan maksudnya yaitu adzan dan iqamah dan tidak benar dibawa maknanya kepada zhahir lafazhnya karena shalat diantara dua adzan adalah shalat fardhu”. Lihat kitab Fath Al Bary, karya Ibnu Hajar, 2/107.

An Nawawi rahimahullah berkata: 

المراد بالأذانين الأذان والإقامة وفي هذه الروايات استحباب ركعتين بين المغرب وصلاة المغرب


Artinya: “Maksud dua adzan adalah adzan dan iqamah, dan di dalam riwayat-riwayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan shalat dua rakaat antara maghrib dan shalat maghrib”. Lihat kitab Al Minhaj, karya An Nawawi, 6/123.

Berkata Al Mubarakfury rahimahullah di dalam kitab Tuhfat Al Ahwadzy:

قَوْلُهُ (بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ) أَيْ أَذَانٍ وَإِقَامَةٍ وَهَذَا مِنْ بَابِ التَّغْلِيبِ كَالْقَمَرَيْنِ لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ

وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ أُطْلِقَ عَلَى الْإِقَامَةِ أَذَانٌ لِأَنَّهَا إِعْلَامٌ بِحُضُورِ فِعْلِ الصَّلَاةِ كَمَا أَنَّ الْأَذَانَ إِعْلَامٌ بِدُخُولِ الْوَقْتِ


Sabda beliau: “dua adzan”, maksudnya adalah adzan dan iqamah dan ini termasuk dari sisi pemasukan dua kata kepada satunya, seperti dua bulan untuk penyebutan matahari dan bulan.
Dan bisa dimungkinkan penyebutan iqamah dengan sebutan adzan karena iqamah pemberitahuan akan panggilan pelaksanaan shalat, sebagaimana adzan sebagai pemberitahuan akan masuknya waktu shalat”. Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, 1/466.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه, قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا ».


Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian telah shalat Jum'at maka hendaklah ia shalat 4 raka'at setelahnya". Hadits riwayat Muslim (no. 881)

عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما: أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ ذَلِكَ.


Artinya: "Dari Nafi', beliau mendapatkan riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma: "Bahwasanya beliau senantiasa jika telah shalat Jum'at, beliau pulang dan shalat 2 raka'at di rumahnya, kemudian beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa berbuat demikian". Hadits riwayat Muslim (no. 882). 

Wallahu a'lam.

*) Ditulis oleh: Ahmad Zainuddin, Selasa, 2 Shafar 1433H, Dammam KSA.

TUNTUNAN SHALAT SUNNAH QOBLIYAH ASHAR

 



Pertanyaan:
Aku pernah shalat qobliyah Ashar empat raka’at. Apakah aku mengerjakannya dua raka’at salam lalu dua raka’at salam? Ataukah aku mengerjakannya dengan empat raka’at sempurna?

Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi

Jawaban:
Disyariatkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk melaksanakan shalat qobliyah Ashar empat raka’at dan ia salam pada setiap dua raka’at.

Disyari’atkannya shalat qobliyah Ashar berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا
Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat qobliyah Ashar empat raka’at.” [HR. Abu Daud no. 1271, At Tirmidzi no. 430, Ahmad 2/117. Hadits ini hasan.]

Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى
“Shalat (sunnah) malam dan siang hari adalah dua raka’at, dua raka’at.” [HR. Abu Daud no. 1295, An Nasai no. 1666, At Tirmidzi no. 597. Hadits ini shahih] .

Hanya Allah yang memberi taufik.
[Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Majalah Ad Dakwah no. 1560, 14/5/1417 H]

LEBIH BAGUS MENJALANKAN SHALAT SUNNAH DI RUMAH ATAU DI MASJID?

 

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjalankan setiap shalat sunnah di rumah, kecuali jika memang ada hajat atau faktor lain yang mendorong untuk melakukannya di masjid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ
“Sesungguhnya seutama-utama shalat adalah shalat seseorang di rumahnya selain shalat wajib.”

Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi


Di antara keutamaan lainnya mengerjakan shalat di rumah, apalagi ketika baru datang dari masjid atau akan pergi ke masjid terdapat dalam hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا خرجت من منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مخرج السوء وإذا دخلت إلى منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مدخل السوء
“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang ada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” 

KONTINU DALAM AMALAN ITU LEBIH BAIK

 

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.

Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi

An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan,”Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ’Abdullah bin ’Umar.”

Demikian sedikit penjelasan dari kami mengenai shalat sunnah rawatib. Semoga kita termasuk hamba Allah yang bisa merutinkannya. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

***

[1] HR. Ibnu Majah no. 277, Ad Darimi no. 655 dan Ahmad (5/282), dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[2] HR. Muslim no. 488.
[3] HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari ‘Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[4] HR. Abu Daud no. 864, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[5] HR. Muslim no. 728.
[6] HR. Tirmidz no. 414, dari ‘Aisyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[7] Lihat Bughyatul Mutathowwi’fii Sholati At Tathowwu’.
[8] Dikerjakan dua raka’at salam dan dua raka’at salam.
[9] HR. Muslim no. 725.
[10] HR. Bukhari no. 1169.
[11] Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/456, Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, 1407 H. [Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, ‘Abdul Qadir Al Arnauth]
[12] HR.Abu Daud no. 1269, An Nasa-i no. 1816, dan At Tirmidzi no. 428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[13] HR. Bukhari no. 1180.
[14] Shahih Fiqh Sunnah, 1/381.
[15] HR. Bukhari no. 731 dan Muslim no. 781.
[16] HR. Al Bazzar. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323.
[17] HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya. 
[18] Syarh Muslim, An Nawawi, 6/71, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, tahun 1392 H.
[19] Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84, Asy Syamilah

TIGA MODEL UNTUK SHALAT RAWATIB ZHUHUR


 

Dalam melakukan shalat sunnah rawatib zhuhur ada tiga model yang bisa dilakukan.

Pertama: Empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudah Zhuhur sebagaimana telah dikemukakan dalam hadits ‘Aisyah di atas.

Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi

Kedua: Empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah zhuhur. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Ummu Habibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ
“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah Zhuhur, maka akan diharamkan baginya neraka.”

Ketiga: Dua raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudah Zhuhur. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,

فِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ
“Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.”

SHALAT QOBLIYAH SHUBUH JANGAN SAMPAI DITINGGALKAN

 


 

Shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah fajr memiliki keutamaan sangat luar biasa. Di antaranya disebutkan dalam hadits ‘Aisyah,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا 

“Dua raka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

 Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukan shalat ini, sampai-sampai ketika safar pun beliau terus merutinkannya. 

 

‘Aisyah mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain shalat sunnah fajar.”

 

Ibnul Qayyim mengatakan,“Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqoshor shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.”

MERUTINKAN SHOLAT SUNNAH ROWATIB (MEMBANGUN RUMAH DI SURGA)

 


Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu. Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib disebut shalat sunnah qobliyah. Sedangkan sesudah shalat wajib disebut shalat sunnah ba’diyah.  

 Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi

Di antara tujuan disyari’atkannya shalat sunnah qobliyah adalah agar jiwa memiliki persiapan sebelum melaksanakan shalat wajib. Perlu dipersiapkan seperti ini karena sebelumnya jiwa telah disibukkan dengan berbagai urusan dunia. Agar jiwa tidak lalai dan siap, maka ada shalat sunnah qobliyah lebih dulu. 

 

Sedangkan shalat sunnah ba’diyah dilaksanakan untuk menutup beberapa kekurangan dalam shalat wajib yang baru dilakukan. Karena pasti ada kekurangan di sana-sini ketika melakukannya. 

 

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib 

 

Pertama: Shalat adalah sebaik-baik amalan 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ  

“Ketahuilah, sebaik-baik amalan bagi kalian adalah shalat.”[1]  

 

Kedua: Akan meninggikan derajat di surga karena banyaknya shalat tathowwu’ (shalat sunnah) yang dilakukan 

Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanyakan mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai oleh Allah. Kemudian Tsauban mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan hal tersebut pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً  

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah karena tidaklah engkau bersujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan satu derajatmu dan menghapuskan satu kesalahanmu.”[2] Ini baru sekali sujud. Lantas bagaimanakah dengan banyak sujud atau banyak shalat yang dilakukan?! 

 

Ketiga: Menutup kekurangan dalam shalat wajib

Seseorang dalam shalat lima waktunya seringkali mendapatkan kekurangan di sana-sini sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا  

“Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan,seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.”[3]  

 

Untuk menutup kekurangan ini, disyari’atkanlah shalat sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ  

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.”[4]  

 

Keempat: Rutin mengerjakan shalat rawatib 12 raka’at dalam sehari akan dibangunkan rumah di surga. 

Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«
مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ  

“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” 

 

Coba kita lihat, bagaimana keadaan para periwayat hadits ini ketika mendengar hadits tersebut. Di antara periwayat hadits di atas adalah An Nu’man bin Salim, ‘Amr bin Aws, ‘Ambasah bin Abi Sufyan dan Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung. 

 

Ummu Habibah mengatakan, Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ” 

 

‘Ambasah mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah.” 

 

‘Amr bin Aws mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Ambasah.” 

 

An Nu’man bin Salim mengatakan,“Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Amr bin Aws.”[5] 

 

Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At Tirmidzi, dari ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ 

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.”[6] 

 

Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya merutinkan shalat sunnah rawatib sebanyak 12 raka’at setiap harinya.[7] 

 

Dua belas raka’at rawatib yang dianjurkan untuk dijaga adalah: [1] empat raka’at[8] sebelum Zhuhur, [2] dua raka’at sesudah Zhuhur, [3] dua raka’at sesudah Maghrib, [4] dua raka’at sesudah ‘Isya’, [5] dua raka’at sebelum Shubuh. 

PAHALA SHALAT RAWATIB


 


Oleh ; MUKHLIS DENROS

Shalat adalah salah satu media untuk memperbaiki diri manusia, dalam hikmah shalat dapat dikatakan bahwa orang yang shalat tidak akan menyia-nyiakan waktu karena dia terikat oleh waktu-waktu shalat yang harus segera ditunaikan, sebelum berangkat dia sudah dapat memperkirakan dimana nanti shalatnya, orang yang shalat sebelumnya harus membersihkan badan, pakaian dan tempat shalat yang diawali dengan wudhu terlebih dahulu, orang yang melaksanakan shalat akan nampak tanda bekas sujud di wajahnya, begitupun dalam pribadinya ada perubahan ke arah kebaikan dalam tindak dan prilakunya

Kunjungi link perangkat pembelajaran: deep learning

Kunjungi Link mewarnai: gambar profesi

sehari-hari, orang yang shalat akan tercegah dari perbuatan jahat, hatinya tidak akan tergerak untuk melakukan kejahatan, bila shalat dilakukan, sementara diikuti pula dengan kejahatan berarti orang tersebut shalatnya tidak membekas. Dalam surat Al Ankabut 29;45, Allah Swt berfirman,;
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian pentingnya kedudukan shalat bagi seorang muslim sehingga tidak boleh meremehkan kewajiban ini sedikitpun karena disamping mengandung hal-hal positif ketika dikejakan tapi juga mendapatkan hal-hal negatif kalau kita meninggalkan shalat.

Shalat sangat istimewa sekali bagi seorang muslim karena ketika di akherat yang pertama kali diperiksa adalah shalat bukan amalan-amalan besar lainnya bahkan shalat menjadi ukuran untuk baiknya amalan lain bila shalatnya sudah baik, Rasulullah bersabda; "Amalan yang mula-mula dihisab dari seseorang hamba pada hari kiamat ialah shalat, jika ia baik maka baiklah seluruh amalannya, jika buruk maka buruklah semua amalannya".[HR. Thabrani].

Banyak peluang shalat sunnat yang dapat dilakukan seorang mukmin baik dikerjakan di rumah ataupun di masjid sejak dari shalat malam yang kita kenal dengan shalat tahajud, shalat hajad, shalat witir, shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid ataupun shalat sukrul wudhu yang sering dilakukan oleh sahabat Nabi bernama bilal bin Rabah.

Artinya kalaulah pandai mengisi waktu, menggunakan momen bisa kapan saja kita bersujud kepada Allah sebagai ujud dari pengabdian kepada-Nya. Selain shalat wajib dan shalat sunnah yang dikemukakan diatas ada shalat sunnat rawatib yaitu shalat sunnat yang mengiringi shalat wajib, dikerjakan sesudah atau sebelum shalat wajib, seperti dua rakaat sebelum shalat wajib subuh, dua rakaat sebelum dan dua atau empat rakaat sesudah shalat zhuhur, dua rakaat atau empat rakaat sesudah shalat ashar, dua rakaat setelah shalat maghrib, dua rakaat sebelum dan dua rakaat setelah shalat isya, sehingga jumlahnya 22 rakaat.

-
كَانَ النَّبَي صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ أَمْهَلَ حَتَّى إِذَا كَانَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا يَعْنِي مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مِقْدَارُهَا مِنْ صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنْ هَاهُنَا مِنْ قَبْلِ الْمَغْرِبِ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يُمْهِلُ حَتَّى إِذَا كَانَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَاهُنَا يَعْنِي مِنْ قَبْلِ الْمَشْرِقِ مِقْدَارُهَا مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ مِنْ هَاهُنَا يَعْنِي مِنْ قَبْلِ الْمَغْرِبِ قَامَ فَصَلُّى أَرْبَعَا وَأَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ إِذاَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَأَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ يَفْصِلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِالتَّسْلِيْمَ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَالنَّبِيِّيْنَ وَمَنْ تَبِعُهُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ [يَجْعَلُ التَّسْلِيْمَ فِى أَخِيْرِهِ] .
"Adalah Rasulullah jtka shalat fajar menundanya sehingga matahari ada di sini -yakni dan arah Timur- ukurannya dari shalat Ashar dari sini -yakni dari arah Barat-. beliau berdiri lalu shalat dua rakaat dari berhenti. Jika matahari itu sudah ada di situ. yakni dari arah Timur Ukurannnya dari shalat Dhuhur dari sini, yakni dari arah Barat. beliau berdiri lalu shalat empat raka'at. empat rakaat sebelum Dhuhur. Jiku matahari telah condong ke Barat, dua raka'at setelahnya dan empat raka'at sebelum Ashar. Beliau memisah antara dua raka'at dengan salam kepada malaikat Al-Muqarrahin. para nabi dan kaum Muslimin yang mengikuti mereka. (Beliau menjadikan salam pada akhimya)."


Shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat subuh yang sering disebut shalat fajar merupakan shalat sunnah yang sangat istimewa, sebagaimana yang disampaikan oleh Aisyah. ,"Tidak ada shalat sunnat yang lebih dipentingkan oleh Nabi Saw, selain
dari shalat sunnah dua rakaat subuh" [HR. Bukhari dan Muslim]

Pada waktu zuhur juga ada shalat sunnah rawatib sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat nabi. Dari Ibnu Umar ia berkata,"Pernah saya shalat bersama Rasulullah saw, dua rakaat sebelum zuhur dan dua rakaat sesudah zuhur, dan dua rakaat sesudah jum'at dan dua rakaat sesudah isya" [HR. Bukhari Muslim].

Shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah zuhur memiliki keutamaan besar sekali sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah dari Ummu Habibah,"Nabi Saw, berkata,"Barang siapa mengerjakan shalat empat rakaat sebelum zuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah mengharamkan api neraka baginya" [HR. Tirmizi]

Shalat sunnah rawatib sebelum shalat ashar dikatakan oleh anak Umar bin Khattab tentang ganjaran yang akan diterima oleh orang yang melakukannya, Dari Ibnu Umar, "Nabi Saw bersabda,"Allah memberi rahmat kepada seseorang manusia yang shalat empat rakaat sebelum ashar" [HR. Tirmizi].

Sedangkan setelah shalat subuh dan setelah shalat ashar tidak ada shalat rawatib, mengenai sebelum shalat maghrib ulama berbeda pendapat. Mereka (di antaranya Hanafiyah) meriwayatkannya dari Abu Syu'aib dari Thawus. yang menuturkan: "Ibnu Umar ditanya tentang dua raka’at sebelum shalat Maghrib. beliau menjawab: "Saya tidak melihat seorang pun melakukannya. pada masa Rasulullah ".

Setelah shalat jum'at disunnahkan untuk melakukan shalat sunnah dua atau empat rakaat. Dari Ibnu Umar,"Bahwasanya Nabi Saw melakukan shalat dua rakaat sesudah shalat jumlat di rumah beliau" [HR. Bukhari dan Muslim]. Dari Abu Hurairah Saw bersabda,"Apabila salah seorang diantara kamu telah shalat jum'at, hendaklah ia shalat sesudahnya empat rakaat" [HR. Muslim].

Masjid merupakan tempat ibadah ummat islam yang sangat strategis dalam rangka menimba pahala dengan melakukan aktivitas ibadah wajib ataupun sunnah, salah satunya adalah shalat tahiyatul masjid, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan oleh jamaah yang sedang masuk ke masjid, baik pada hari jumat maupun lainnya, diwaktu malam atau siang.

Jika kita masuk ke dalam masjid, hendaklah sebelum duduk kita mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Shalat sunnah ini disebut shalat tahiyatul masjid, artinya shalat untuk menghormati masjid. Dari Abu Qatadah, "Rasulullah Saw berkata," Apabila salah seorang diantara kamu masuk ke masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua rakaat dahulu" [HR. Bukhari].

Bahkan ketika khatib sedang berkhutbahpun, bila ada jamaah yang masuk masjid dan masuk ada waktu diusahakan untuk melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid dengan ringan, artinya jangan terlalu lama, untuk segera dapat mendengarkan khutbah.

Kadangkala kita tidak pandai menghargai wasiat yang disampaikan oleh Rasulullah tentang keutamaan dan pahala bagi orang yang mengerjakan shalat sunnah seperti shalat sunnah rawatib padahal peluangnya banyak sekali, kita lihatlah ketika sebelum atau selesai mengerjakan shalat wajib yang didalamnya ada shalat sunnah rawatib, banyak ummat islam yang tidak mengerjakannya, memang sunnah tapi sehingga cendrung diabaikan, padahal Rasululah menyatakan bahwa berbahagialah bagi ummat yang menjaga sunnah-sunnah Nabi sementara orang lain melalaikannya. Disamping itu, shalat sunnah rawatib adalah bentuk penyempurnaan dari shalat wajib yang kita lakukan, karena bisa saja, ada kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam shalat wajib yang kita lakukan, maka dengan shalat rawatiblah kita sempurnakan.

Pelaksanaan shalat atau amal-amal yang sunnah memang tergantung kepada level iman seseorang. Ulama membagi level iman seseorang menjadi lima yaitu muslim, mukmin, muhsin, mukhlis dan muttaqin.

Muslim adalah keimanan yang sangat rendah sekali, baru sebatas pengakuan bahwa Allah sebagai Ilahnya. Imannya belum lagi menghunjam. Ibadahnya hanya sekedar yang dia perlukan. Dosa dan maksiat dalam kehidupannya masih kebutuhan. Suatu ketika datanglah seorang Arab Baduy ke hadapan Rasulullah dengan menyatakan ”Amanna” artinya kami telah beriman. Kontan Rasul menyahut, ”Katakanlah Aslamna, bahwa engkau baru Islam”. Allahpun menjelaskan dalam firman-Nya surat Al Hujurat ayat 14. Ada yang menyatakan ke Islamannya di hadapan Rasulullah, setelah mengucapkan kalimat tauhid itu dipersilahkan pulang, ada pula yang siap masuk Islam dengan syarat dia dibolehkan untuk berbuat dosa apa saja, maka Rasul cukup memberi resep kepadanya ,”Jangan berbohong” tetapi ada pula yang baru masuk Islam telah diberi pedang untuk berjihad di medan juang, berarti keimanan orang ini berbeda dengan dua orang lainnya tadi.

Mukmin adalah level iman kedua setelah seorang muslim mengkaji ajaran Islam sehingga meningkat ”tsaqafah” [wawasan] keislamannya. Semakin menghunjam imannya sehingga ibadah wajibnya tertib dilakukan. Dosanya semakin kecil karena disibukkan oleh peningkatan iman. Mereka telah punya sifat-sifat tersendiri, sebagaimana yang digambarkan Allah dalam surat Al Anfal ayat 2-5, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang dikala disebut nama Allah bergetarlah hatinya, saat dibacakan ayat-ayat Allah bertambah keimanannya, kepada Allah mereka bertawakkal...yaitu orang-orang yang menegakkan shalat dan membayarkan zakat”. Mukmin lebih cepat masuk syurga daripada muslim.

Muhsin yaitu orang yang kualitas imannya semakin baik dengan banyaknya berbuat kebajikan. Tidak hanya yang wajib-wajib saja tetapi amal-amal sunnah sudah jadi kesukaannya seperti shalat rawatib, shalat dhuha, qiyamul lail, puasa sunnah dan infaq yang dimotivasi hanya mencari ridha Allah. Perbuatan dosa muhsin sangat minim sekali, sebab mereka sibuk dengan ibadah dan peningkatan iman. Kerapian kerja dan kedisiplinan dalam menata waktu sebagai pakaiannya dalam setiap aktivitas. Muhsin lebih cepat masuk syurga daripada mukmin.

Mukhlis adalah tingkatan yang keempat setelah menjalani berbagai training dalam kehidupan ini. Hidupnya ikhlas hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah sebagai apapun profesi dan prestasinya. Jabatan apapun yang dia sandang; sebagai Bupati, anggota dewan, kepala bagian atau entah jabatan lainnya, tetapi dia tidak merasa tinggi dan sombong dengan itu. Sebab dia tahu bahwa semua itu adalah titipan yang akan diminta pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah. Atau mungkin dia seorang yang rendah sekalipun statusnya di tengah masyarakat, dengan posisi ini sedikitpun dia tidak merasa hina.

Amal yang dilakukan seorang mukhlis jauh dari riya’ yaitu beramal ingin dilihat orang lain dan sum’ah yaitu beramal supaya didengar orang lain. Baginya biarlah orang tidak melihat dan menyebut dirinya tetapi Allah tahu siapa dia. Allah memperingatkan kita dalam surat Al Bayyinah agar kita jadi orang yang ikhlas dalam beragama ini. Mukhlis lebih cepat masuk syurga daripada muhsin.

Muttaqin adalah level iman yang paling tinggi,artinya orang yang bertaqwa. Suatu ketika Umar bin Khattab ditanya oleh seorang sahabat tentang taqwa ini, maka dia balik bertanya, ”Pernahkah kamu melewati perjalanan sulit ?” maka dijawab ”Pernah”, Umar bertanya lagi, ”Bagaimana cara kamu melewati jalan itu?”, sang sahabat itu menjawab, ”Maka saya berhati-hati”, Umar lansung menukas, ”Nah itulah yang dikatakan dengan taqwa yaitu berhati-hati”.

Kebiasan umat islam melakukan shalat sunnah rawatib karena memang level iman seseorang sudah menunjukkan perbaikan dan peningkatan level setelah muslim, mukmin dan muhsin. Orang inilah yang menyadari pentingnya shalat sunnah rawatib itu dengan segala keutamaan dan pahala yang akan diperolehnya selain dari meraih pahala dari shalat wajib yang dikerjakan, wallahu a'lam. [Cubadak Solok,17 Syawal 1431.H/ 26 September 2010]

Referensi;
1. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath 2.Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4.Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5.H. Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, 1997
6.Drs. Moh. Rifa'i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap,2005

Penulis Drs. St. Mukhlis Denros
Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat
Anggota DPRD Kabupaten Solok 1999-2009
Hak Cipta Dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala
Tidak Dilarang Keras Mengkopi dan Menyebarkan Materi ini
dengan menyebutkan sumbernya; http://mukhlisdenros,blogspot.com

99 ASMAUL HUSNA

 


 

 

 

NO

NAMA

ARTI

1

Ar Rahman

Allah Yang Maha Pengasih

2

Ar Rahiim

Allah Yang Maha Penyayang

3

Al Malik

Allah Yang Maha Merajai (bisa di artikanRaja dari semua Raja)

4

Al Quddus

Allah Yang Maha Suci

5

As Salaam

Allah Yang Maha Memberi Kesejahteraan

6

Al Mu`min

Allah Yang Maha Memberi Keamanan

7

Al Muhaimin

Allah Yang Maha Mengatur

8

Al `Aziiz

Allah Yang Maha Perkasa

9

Al Jabbar

Allah Yang Memiliki Mutlak Kegagahan

10

Al Mutakabbir

Allah Yang Maha Megah, Yang MemilikiKebesaran

11

Al Khaliq

Allah Yang Maha Pencipta

12

Al Baari`

Allah Yang Maha Melepaskan (Membuat,Membentuk, Menyeimbangkan)

13

Al Mushawwir

Allah Yang Maha Membentuk Rupa(makhluknya)

14

Al Ghaffaar

Allah Yang Maha Pengampun

15

Al Qahhaar

Allah Yang Maha Menundukkan / Menaklukkan Segala Sesuatu

16

Al Wahhaab

Allah Yang Maha Pemberi Karunia

17

Ar Razzaaq

Allah Yang Maha Pemberi Rezeki

18

Al Fattaah

Allah Yang Maha Pembuka Rahmat

19

Al `Aliim

Allah Yang Maha Mengetahui (MemilikiIlmu)

20

Al Qaabidh

Allah Yang Maha Menyempitkan(makhluknya)

21

Al Baasith

Allah Yang Maha Melapangkan(makhluknya)

22

Al Khaafidh

Allah Yang Maha Merendahkan(makhluknya)

23

Ar Raafi`

Allah Yang Maha Meninggikan(makhluknya)

24

Al Mu`izz

Allah Yang Maha Memuliakan(makhluknya)

25

Al Mudzil

Allah Yang Maha Menghinakan(makhluknya)

26

Al Samii`

Allah Yang Maha Mendengar

27

Al Bashiir

Allah Yang Maha Melihat

28

Al Hakam

Allah Yang Maha Menetapkan

29

Al `Adl

Allah Yang Maha Adil

30

Al Lathiif

Allah Yang Maha Lembut

31

Al Khabiir

Allah Yang Maha Mengenal

32

Al Haliim

Allah Yang Maha Penyantun

33

Al `Azhiim

Allah Yang Maha Agung

34

Al Ghafuur

Allah Yang Maha Memberi Pengampunan

35

As Syakuur

Allah Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)

36

Al `Aliy

Allah Yang Maha Tinggi

37

Al Kabiir

Allah Yang Maha Besar

38

Al Hafizh

Allah Yang Maha Memelihara

39

Al Muqiit

Allah Yang Maha Pemberi Kecukupan

40

Al Hasiib

Allah Yang Maha Membuat Perhitungan

41

Al Jaliil

Allah Yang Maha Luhur

42

Al Kariim

Allah Yang Maha Pemurah

43

Ar Raqiib

Allah Yang Maha Mengawasi

44

Al Mujiib

Allah Yang Maha Mengabulkan

45

Al Waasi`

Allah Yang Maha Luas

46

Al Hakim

Allah Yang Maha Bijaksana

47

Al Waduud

Allah Yang Maha Mengasihi

48

Al Majiid

Allah Yang Maha Mulia

49

Al Baa`its

Allah Yang Maha Membangkitkan

50

As Syahiid

Allah Yang Maha Menyaksikan

51

Al Haqq

Allah Yang Maha Benar

52

Al Wakiil

Allah Yang Maha Memelihara

53

Al Qawiyyu

Allah Yang Maha Kuat

54

Al Matiin

Allah Yang Maha Kokoh

55

Al Waliyy

Allah Yang Maha Melindungi

56

Al Hamiid

Allah Yang Maha Terpuji

57

Al Muhshii

Allah Yang Maha Mengalkulasi(Menghitung Segala Sesuatu)

58

Al Mubdi`

Allah Yang Maha Memulai

59

Al Mu`iid

Allah Yang Maha MengembalikanKehidupan

60

Al Muhyii

Allah Yang Maha Menghidupkan

61

Al Mumiitu

Allah Yang Maha Mematikan

62

Al Hayyu

Allah Yang Maha Hidup

63

Al Qayyuum

Allah Yang Maha Mandiri

64

Al Waajid

Allah Yang Maha Penemu

65

Al Maajid

Allah Yang Maha Mulia

66

Al Wahid

Allah Yang Maha Tunggal

67

Al Ahad

Allah Yang Maha Esa

68

As Shamad

Allah Yang Maha Dibutuhkan, TempatMeminta

69

Al Qaadir

Allah Yang Maha Menentukan, MahaMenyeimbangkan

70

Al Muqtadir

Allah Yang Maha Berkuasa

71

Al Muqaddim

Allah Yang Maha Mendahulukan

72

Al Mu`akkhir

Allah Yang Maha Mengakhirkan

73

Al Awwal

Allah Yang Maha Awal

74

Al Aakhir

Allah Yang Maha Akhir

75

Az Zhaahir

Allah Yang Maha Nyata

76

Al Baathin

Allah Yang Maha Ghaib

77

Al Waali

Allah Yang Maha Memerintah

78

Al Muta`aalii

Allah Yang Maha Tinggi

79

Al Barru

Allah Yang Maha Penderma (MahaPemberi Kebajikan)

80

At Tawwaab

Allah Yang Maha Penerima Tobat

81

Al Muntaqim

Allah Yang Maha Pemberi Balasan

82

Al Afuww

Allah Yang Maha Pemaaf

83

Ar Ra`uuf

Allah Yang Maha Pengasuh

84

Malikul Mulk

Allah Yang Maha Penguasa Kerajaan(Semesta)

85

Dzul Jalaali WalIkraam

Allah Yang Maha Pemilik Kebesaran danKemuliaan

86

Al Muqsith

Allah Yang Maha Pemberi Keadilan

87

Al Jamii`

Allah Yang Maha Mengumpulkan

88

Al Ghaniyy

Allah Yang Maha Kaya

89

Al Mughnii

Allah Yang Maha Pemberi Kekayaan

90

Al Maani

Allah Yang Maha Mencegah

91

Ad Dhaar

Allah Yang Maha Penimpa Kemudharatan

92

An Nafii`

Allah Yang Maha Memberi Manfaat

93

An Nuur

Allah Yang Maha Bercahaya (Menerangi,Memberi Cahaya)

94

Al Haadii

Allah Yang Maha Pemberi Petunjuk

95

Al Badii’

Allah Yang Maha Pencipta Yang TiadaBandingannya

96

Al Baaqii

Allah Yang Maha Kekal

97

Al Waarits

Allah Yang Maha Pewaris

98

Ar Rasyiid

Allah Yang Maha Pandai

99

As Shabuur

Allah Yang Maha Sabar