PENGERTIAN MAJAS DAN CONTOHNYA: MAJAS METAFORA, MAJAS PERSONIFIKASI, MAJAS HIPERBOLA, MAJAS ASOSIASI DAN MAJAS LITOTES

 

Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara imajinatif atau kiasan. Tujuannya adalah untuk membuat karya sastra atau percakapan menjadi lebih hidup, berkesan, dan memiliki efek emosional tertentu bagi pembacanya.

1. Majas Metafora (Perbandingan Langsung)

Menggunakan kata kiasan yang mewakili persamaan, bukan makna sebenarnya. 

  1. Si Jago Merah melahap habis rumah warga. (Api)
  2. Perpustakaan adalah gudang ilmu. (Tempat banyak ilmu)
  3. Dia menjadi anak emas di kelasnya. (Anak kesayangan)
  4. Pria itu terkenal panjang tangan. (Suka mencuri)
  5. Dia memang buaya darat. (Pria tidak setia)
  6. Masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin. (Sabar/tenang)
  7. Ibuku dulu adalah kembang desa. (Gadis tercantik)
  8. Jangan jadi otak udang. (Malas/bodoh)
  9. Perempuan itu tulang punggung keluarganya. (Pencari nafkah utama)
  10. Pejabat itu harus berhati-hati dengan tikus berdasi. (Koruptor

2. Majas Personifikasi (Benda Mati Bertingkah Laku) 

Memberikan sifat manusia pada benda mati. 

  1. Angin berbisik lembut di telingaku.
  2. Pena itu menari-nari di atas kertas.
  3. Laut yang biru menatapku dalam keheningan.
  4. Awan menangis siang itu.
  5. Laptopku kelelahan karena digunakan semalam suntuk.
  6. Matahari bangun terlalu pagi.
  7. Ombak kejar-kejaran di tepi pantai.
  8. Sirine ambulans menjerit memecah kesunyian.
  9. Daun-daun berjoget diterpa angin.
  10. Kabut tebal menyelimuti kota. 

3. Majas Hiperbola (Berlebihan) 

Mengungkapkan sesuatu secara berlebihan, bahkan sering tidak masuk akal. 

  1. Dia memeras keringat untuk menafkahi keluarga. (Bekerja keras)
  2. Suaranya menggelegar membelah angkasa.
  3. Lari maraton itu membuat kakiku terasa mau lepas.
  4. Hatinya hancur remuk mendengar kabar itu.
  5. Harga rumah itu selangit.
  6. Dia menangis sampai air matanya habis.
  7. Cita-citanya setinggi langit.
  8. Dia menghabiskan makanan itu secepat kilat.
  9. Suaranya memecahkan gendang telinga.
  10. Antrean itu mengular hingga satu kilometer

4. Majas Asosiasi (Perbandingan/Persamaan)

Membandingkan dua hal berbeda namun dianggap sama, memakai kata seperti, bak, bagai, laksana

  1. Semangatnya keras seperti baja.
  2. Sita dan Siti bak pinang dibelah dua. (Sangat mirip)
  3. Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam.
  4. Senyumnya laksana bunga yang masih ranum.
  5. Anton bekerja seperti kerbau yang membajak sawah.
  6. Kulitmu halus seperti kapas putih.
  7. Pikirannya encer bak santan kelapa. 

5. Majas Litotes

Majas Litotes adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dengan cara merendahkan diri. Tujuannya bukan untuk berbohong, melainkan untuk menjaga kesopanan atau etika agar tidak terkesan sombong (kebalikan dari hiperbola).

 

  1. "Silakan mampir ke gubuk reot kami ini."
    (Maksudnya: Menyebut rumah sendiri yang sebenarnya layak atau bagus dengan sebutan gubuk).
  2. "Apalah daya saya, hanya orang kecil yang tak punya apa-apa."
    (Maksudnya: Seseorang yang sebenarnya memiliki jabatan atau kemampuan namun tetap rendah hati).
  3. "Terimalah tanda kasih yang tidak seberapa ini."
    (Maksudnya: Memberi hadiah yang mungkin bernilai mahal namun menyebutnya tidak berharga).
  4. "Makanlah seadanya dengan lauk yang alakadarnya."
    (Maksudnya: Menyajikan hidangan yang lengkap namun tetap merendah).
  5. "Saya hanyalah sebutir debu di luasnya dunia ini."
    (Maksudnya: Merasa diri tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Tuhan atau alam).
  6. "Maaf jika jamuan kami ini tidak berkenan di hati Anda."
    (Maksudnya: Padahal sudah memberikan pelayanan maksimal kepada tamu).
  7. "Tulisan saya yang acak-acakan ini jangan terlalu diperhatikan."
    (Maksudnya: Penulis hebat yang menganggap karyanya masih butuh banyak perbaikan).
  8. "Saya hanya beruntung bisa lulus, padahal otak saya pas-pasan."
    (Maksudnya: Padahal dia belajar sangat keras dan memang pintar).
  9. "Usaha kecil-kecilan saya ini hanya untuk menyambung hidup."
    (Maksudnya: Digunakan oleh pengusaha yang bisnisnya sebenarnya sudah berkembang pesat).
  10. "Mungkin suara sumbang saya ini akan merusak suasana."
    (Maksudnya: Dikatakan oleh penyanyi atau pembicara sebelum memulai aksinya sebagai bentuk kerendahan hati).