FABEL LUCU: PERTEMPURAN CACING DAN SEMUT YANG AKHIRNYA BERTEMAN

 


Di sebuah taman yang sedang dilanda gerimis, terjadilah sebuah perseteruan konyol antara Cacing bernama Ciko dan seekor Semut bernama Semi.

Pertempuran Dimulai
Semuanya bermula saat Ciko sedang asyik "berenang" di atas tanah yang becek. Tanpa sengaja, tubuhnya yang licin menabrak gundukan tanah yang ternyata adalah pintu masuk markas Semi.

"Woy! Raksasa kenyal! Kamu baru saja menghancurkan gerbang istanaku!" teriak Semi sambil berkacak pinggang di atas sebutir kerikil.

Ciko berhenti. Karena tidak punya telinga, dia hanya merasakan getaran hebat. Dia melongokkan kepalanya yang tidak jelas mana wajah mana ekor. "Siapa itu? Ada yang bicara dengan pantatku?"

Semi makin emosi. "Aku di sini, dasar sosis tanah! Ayo duel!" Semi mulai melakukan gerakan karate di udara, meskipun bagi Ciko, Semi hanya terlihat seperti titik hitam yang sedang ayan.

Serangan Tanpa Efek
Semi menyerang duluan. Dia menggigit bagian tengah tubuh Ciko. "Hiaaat! Rasakan rahang bajaku!"

Ciko menggeliat geli. "Aduh, aduh! Siapa yang sedang menggelitikku? Hentikan, itu area sensitif!" Ciko tertawa terpingkal-pingkal sampai tubuhnya meliuk-liuk seperti mi instan yang diaduk.

Karena kegelian, Ciko tidak sengaja berguling dan... Pluk! Tubuh besarnya menindih Semi.

"Aduh! Gelap! Aku tertimbun kasur hidup!" teriak Semi dari bawah perut Ciko yang dingin dan basah.

Gencatan Senjata yang Aneh
Ciko segera bergeser. "Oh, maaf! Aku tidak tahu kamu ada di sana, Teman Kecil. Kenapa kamu menggigitku? Aku kan cuma mau lewat."

Semi mengatur napasnya yang tersengal. "Kamu merusak rumahku! Kami sudah lembur semalaman membangun pintu itu menggunakan air liur dan doa!"

Ciko merasa bersalah. "Maafkan aku. Tapi jujur, aku sulit melihat jalan. Mataku saja tidak ada."

Semi terdiam. Dia baru sadar kalau lawannya ini memang agak "kurang lengkap" secara anatomi. "Oh... pantesan. Tapi gara-gara kamu, aku sekarang basah kuyup dan kedinginan."

Persahabatan Unik
Ciko punya ide. Dia melingkarkan tubuhnya membentuk lingkaran kecil di atas tanah yang kering di bawah daun lebar. "Sini, masuk ke tengah tubuhku. Di sini hangat, aku akan menjagamu dari air hujan."

Semi yang tadinya ingin berperang, malah merasa terharu. Dia melompat ke tengah lingkaran tubuh Ciko. "Wah, ternyata kamu empuk juga ya, seperti sofa mahal."

"Dan kamu," kata Ciko sambil terkekeh, "ternyata gigitanmu lumayan juga untuk menghilangkan gatal-gatal di kulitku."

Akhirnya, pertempuran besar itu berakhir dengan damai. Sore itu, di bawah daun talas, seekor semut tidur siang dengan nyenyak di atas "kasur" cacing, sementara sang cacing senang karena akhirnya punya teman yang bisa memberitahunya mana bagian kepala dan mana bagian ekor.

 

Pesan moral dari cerita 

Pertempuran Cacing dan Semut adalah:

  1. Jangan Cepat Marah karena Salah Paham: Seringkali perselisihan terjadi hanya karena kita tidak tahu kondisi orang lain (seperti Semi yang tidak tahu Ciko sulit melihat). Bicarakan baik-baik sebelum menyalakan api permusuhan.
  2. Setiap Kekurangan Ada Kelebihannya: Ciko yang tidak punya mata dan telinga mungkin terlihat lemah, tapi tubuhnya bisa menjadi pelindung yang hangat bagi Semi. Begitu juga Semi, meski kecil, dia sangat teliti.
  3. Memaafkan Membuka Jalan Persahabatan: Jika Semi tetap keras kepala dan Ciko membalas dengan dendam, mereka tidak akan pernah merasakan kenyamanan bekerja sama. Memaafkan jauh lebih menguntungkan daripada memelihara permusuhan.
  4. Perbedaan Bukan Penghalang: Meskipun ukuran dan jenis mereka sangat berbeda, cacing dan semut tetap bisa berteman akrab dengan cara saling melengkapi kekurangan satu sama lain.