Guru Fisika, Pak Broto, memberikan tugas proyek yang menantang: membuat kulkas sederhana tanpa menggunakan listrik. Bima, yang percaya pada fisika murni, serius merancang pendingin dengan sistem penguapan air. Aji dan Citra? Mereka punya ide yang... unik.
"Kita
butuh media pendingin yang alami," kata Aji sambil
menggaruk dagu. "Aku tahu! Kita pakai es batu abadi!"
Bima
menggeleng. "Mana ada es batu abadi, Ji? Logika!"
Citra
lalu menyodorkan toples kaca besar. "Kita bawa koleksi ulat Glow
in the Dark milikku. Konon, suhu tubuh mereka sangat dingin. Kita
sebut saja Bio-Kulkas Ulat GID."
Bima
melotot. "Itu bioluminesens, Cit, bukan pendingin! Itu ulat! Bau!"
Tapi
Aji sudah bersemangat. Mereka lalu meletakkan satu kaleng soda di dalam toples
ulat tersebut. Saat presentasi, soda itu memang dingin, tapi toplesnya penuh
lendir ulat. Pak Broto terdiam. "Ini... inovasi yang menjijikkan. Tapi sodanya
dingin. Nilai estetika nol, nilai pendinginan 5. Kalian lulus bersyarat!"