Urine bisa berbau atau hampir tidak berbau tergantung
konsentrasinya dan zat yang terkandung di dalamnya.
Penyebab umum urine berbau:
- Dehidrasi: urine pekat → urea terurai jadi amonia → bau tajam.
- Makanan/minuman: asparagus, petai/jengkol, durian, bawang putih, kopi, alkohol.
- Suplemen/obat: terutama vitamin B kompleks (B6) dan beberapa antibiotik.
- Infeksi saluran kemih (ISK): bau menyengat/busuk, sering disertai nyeri saat BAK, anyang-anyangan, demam, urine keruh.
- Ketosis/diabetes: bau manis/fruitty; waspada bila disertai mual, lemas, napas cepat.
- Masalah hati atau metabolik tertentu: bisa memberi bau tidak biasa.
- Urine yang dibiarkan: bakteri memecah urea → amonia (mis. pada popok atau toilet tidak segera disiram).
- Faktor hormonal/menstruasi atau keputihan dapat mengubah bau.
Mengapa kadang tidak berbau:
Hidrasi cukup (urine lebih encer), diet netral, dan urine
segera dibuang/disiram sehingga tidak sempat terurai jadi amonia.
Kapan perlu periksa:
- Bau kuat yang menetap >1–2 hari tanpa sebab jelas.
- Disertai nyeri saat BAK, anyang-anyangan, demam, pinggang sakit, urine keruh/berdarah.
- Bau manis/fruitty pada penderita diabetes atau ibu hamil.
Cara sederhana mengurangi bau:
- Minum air cukup, jangan menahan BAK.
- Batasi pemicu (asparagus, kopi, alkohol, jengkol/petai) bila sensitif.
- Jaga kebersihan area genital; ganti popok segera; ventilasi kamar mandi baik.