Alkisah, di lereng
Gunung Kawi yang subur dan selalu diselimuti kabut tipis, hiduplah berbagai
macam serangga. Di lembah bunga yang indah, hiduplah kelompok kupu-kupu yang
sayapnya berwarna-warni. Mereka merasa sebagai penguasa bunga-bunga terindah.
Di sisi lain, di dekat sungai kecil yang jernih, hiduplah kelompok capung
bersayap bening yang lincah dan cepat terbangnya.
Suatu musim,
bunga-bunga di lembah mekar dengan sangat indahnya. Kupu-kupu, dipimpin oleh
seekor Kupu-kupu Sayap Biru, mengklaim bahwa seluruh lembah adalah milik
mereka.
"Wahai capung,
pergilah ke sungai sana! Jangan kotori pemandangan lembah ini dengan sayap
bening kalian yang membosankan," seru Kupu-kupu Biru dengan sombong.
Capung Raja, yang
bertubuh panjang dan gagah, merasa tersinggung. "Lembah ini milik bersama,
Kupu-kupu. Kami membantu membersihkan hama, sementara kalian hanya menghisap
madu," jawab Capung Raja dengan tegas.
Ketegangan
meningkat. Perang tidak bisa dihindari.
Keesokan harinya,
pertempuran pecah di atas kebun teh Gunung Kawi. Kupu-kupu terbang
berputar-putar, menggunakan keindahan sayap mereka untuk mengecoh lawan, namun
gerakan mereka cenderung lambat dan gemulai. Sebaliknya, para capung terbang
dengan kecepatan luar biasa, menukik dan berbelok tajam, mengandalkan kekuatan
dan ketangkasan mereka.
Kupu-kupu sempat
unggul karena jumlah mereka yang banyak, membuat langit lembah berwarna-warni.
Namun, capung lebih lincah dan mampu menyerang dari berbagai sudut. Pertempuran
berlangsung seharian, menyebabkan serbuk sari bunga berterbangan.
Di saat pertempuran
memuncak, badai tiba-tiba datang dari arah puncak Gunung Kawi. Angin kencang
menerpa lembah.
Sayap kupu-kupu
yang lebar dan rapuh membuatnya sulit melawan angin. Banyak kupu-kupu terjatuh
ke tanah. Melihat itu, Capung Raja sadar bahwa pertempuran ini sia-sia. Dengan
cepat, dia memerintahkan pasukannya untuk membantu kupu-kupu berlindung di
balik batang teh yang kokoh.
Setelah badai reda,
Kupu-kupu Biru merasa malu. "Maafkan kesombonganku, Capung Raja. Tanpa
bantuan kalian, kami pasti musnah diterjang badai."
Capung Raja
tersenyum, "Kecantikan kalian memang menghias lembah, tapi kami butuh
kecepatan kami untuk menjaga keseimbangan. Kita semua penghuni Gunung
Kawi."
Sejak hari itu,
capung dan kupu-kupu hidup berdampingan. Kupu-kupu menjaga keindahan bunga, dan
capung menjaga kesegaran sungai, menjadikan lereng Gunung Kawi tempat yang
harmonis kembali.
Pesan Moral:
Kesombongan hanya akan membawa kehancuran. Kekuatan dan keindahan yang
berbeda seharusnya saling melengkapi, bukan untuk dipertandingkan.