Di akhir semester, ada lomba baca puisi bertema "Keindahan Alam". Aji, Bima, dan Citra dipaksa ikut oleh guru Bahasa Indonesia.
Bima,
si logis, membuat puisi tentang "Siklus Air dan Pentingnya
Evaporasi". Citra membuat puisi tentang "Awan Estetik dan Selfie di
Puncak Gunung".
Giliran
Aji. Ia tidak suka puisi mainstream. Ia maju ke depan panggung
dengan serius dan mulai mendeklamasikan:
"Oh, nyamuk yang
hinggap di pipi, Kau adalah bagian dari ekosistem. Meski suaramu
mengganggu tidurku, Dan gigitanmu meninggalkan bekas merah, Namun
tanpamu, rantai makanan pasti putus! Jadilah nyamuk yang
bermanfaat, bukan sekadar pemuas darah!"
Semua
penonton terdiam. Hanya Citra yang bertepuk tangan heboh sambil merekam. Juri
bingung harus memberi nilai berapa. Mereka akhirnya memberikan
"Penghargaan Orisinalitas Paling Tidak Jelas" kepada Aji. Aji bangga,
Bima mengelus dada, dan Citra langsung membuat story di media
sosial dengan judul: "Aji Dinyamukki! Puisi Paling Absurd Abad
Ini!"