FABEL : BURUNG GAGAK DAN BOTOL

 


 

Seekor burung gagak yang haus mencari air di gurun. Ia menemukan sebuah botol yang berisi air, tetapi leher botol terlalu sempit untuk burung gagak memasukkan kepala. Burung gagak kemudian menggunakan batu untuk memasukkan ke dalam botol dan menaikkan air ke permukaan. Dengan cara itu, burung gagak dapat minum air dari botol.

 

Soal dan Jawaban:

 

1. Q: Apa yang dilakukan burung gagak untuk mendapatkan air?

A: Burung gagak menggunakan batu untuk menaikkan air.

2. Q: Mengapa burung gagak tidak dapat memasukkan kepala ke dalam botol?

A: Karena leher botol terlalu sempit.

3. Q: Apa yang terjadi pada air di dalam botol setelah burung gagak memasukkan batu?

A: Air naik ke permukaan.

4. Q: Apa sifat burung gagak dalam cerita ini?

A: Cerdas dan gigih.

5. Q: Apa pesan moral dari cerita ini?

A: Dengan kesabaran dan kecerdasan, kita dapat menyelesaikan masalah.

 

Pesan Moral: Dengan kesabaran dan kecerdasan, kita dapat menyelesaikan masalah.

FABEL : KUCING DAN TIKUS

 


 

Di sebuah rumah tua, hiduplah seekor kucing yang rakus dan seekor tikus yang cerdas. Suatu hari, kucing tersebut mencoba untuk menangkap tikus, tetapi tikus berhasil melarikan diri. Kucing tersebut kemudian berpura-pura menjadi teman tikus dan mengundangnya untuk makan bersama. Tikus yang cerdas tidak percaya dan memutuskan untuk tidak datang. Kucing tersebut akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

 

Soal dan Jawaban:

 

1. Q: Apa yang dilakukan kucing untuk menangkap tikus?

A: Kucing berpura-pura menjadi teman tikus.

2. Q: Mengapa tikus tidak datang ke undangan kucing?

A: Karena tikus tidak percaya kucing.

3. Q: Apa yang terjadi pada kucing di akhir cerita?

A: Kucing tidak mendapatkan apa-apa.

4. Q: Apa sifat kucing dalam cerita ini?

A: Rakus dan licik.

5. Q: Apa pesan moral dari cerita ini?

A: Jangan percaya pada orang yang berniat jahat.

 

Pesan Moral: Jangan percaya pada orang yang berniat jahat.

PERBEDAAN TWISTER HURRICANE DAN TORNADO

 

Twister, hurricane, dan tornado adalah fenomena cuaca yang berbeda-beda. Berikut adalah perbedaan antara ketiganya:

 

1. Tornado:

*    Tornado adalah kolom udara yang berputar dengan kecepatan tinggi yang menyentuh tanah dan menyebabkan kerusakan.

*    Tornado biasanya terjadi di daratan dan dapat menyebabkan kerusakan parah pada bangunan dan infrastruktur.

*    Tornado dapat terjadi di berbagai belahan dunia, tetapi lebih sering terjadi di wilayah Amerika Serikat.

 

2. Hurricane:

-       Hurricane adalah badai tropis yang kuat dengan angin kencang dan hujan lebat yang terjadi di atas laut tropis.

-       Hurricane dapat menyebabkan kerusakan parah pada daerah pesisir dan dapat memicu banjir.

-       Hurricane lebih besar daripada tornado dan dapat mempengaruhi wilayah yang lebih luas.

 

3. Twister:

-       Twister adalah istilah lain untuk tornado, terutama di Amerika Serikat bagian tengah.

-       Twister dan tornado adalah fenomena yang sama, yaitu kolom udara yang berputar dengan kecepatan tinggi yang menyentuh tanah.

 

Jadi, perbedaan utama antara tornado dan hurricane adalah lokasi dan skala. Tornado lebih kecil dan terjadi di daratan, sedangkan hurricane lebih besar dan terjadi di laut tropis. Twister adalah istilah lain untuk tornado.

TIGA JENIS NGABEN DAN PENJELASANNYA SECARA LENGKAP

 


Berikut 3 jenis ngaben yang paling umum di Bali beserta penjelasan ringkas namun lengkap.

 

1. Ngaben Sawa Wedana (ngaben langsung dengan jenazah)

ü  Kapan dipilih: Saat keluarga siap melaksanakan kremasi tanpa masa penguburan sementara.

ü  Inti prosesi:

ü  Persiapan: menentukan dewasa ayu (hari baik), menata upakara/banten, menyiapkan wadah/bade dan patulangan (sering berupa “lembu”).

ü  Penyucian sawa: memandikan dan menyucikan jenazah (penglukatan), membungkus rapi.

ü  Arak-arakan: sawa diusung dalam bade menuju setra; di perempatan (catus pata) biasanya diputar sebagai simbol memutus ikatan duniawi.

ü  Pembakaran: sawa ditempatkan pada patulangan (lembu), api suci (Brahma) dinyalakan dengan mantra; setelah selesai, sisa tulang/abu dikumpulkan.

ü  Nganyut: abu dilarung ke laut/sungai (segara/tukad).

ü  Pasca-ngaben: upacara penyucian lanjutan (nyekah/mukur) agar atma “naik” menjadi Dewa Pitara dan dapat “elinggih” di merajan/sanggah keluarga.

ü  Ciri khas: prosesi paling lengkap dengan kehadiran jenazah; kebutuhan sarana relatif besar.

 

2. Ngaben Asti Wedana (kremasi tulang/asti)

-       Kapan dipilih: Bila jenazah sebelumnya dikubur (mendem sawa) untuk menunggu dana, waktu, atau ngaben massal; setelah itu, tulang diangkat.

-       Inti prosesi:

-       Ngagah: pengangkatan tulang dari kubur pada hari baik; tulang dibersihkan dan disucikan (asti).

-       Rangkaian ngaben: hampir sama dengan Sawa Wedana, tetapi yang dibakar adalah “asti” (tulang yang telah disucikan), biasanya dalam patulangan yang lebih kecil.

-       Nganyut dan pasca-ngaben: sama—abu dilarung, lalu nyekah/mukur.

-       Ciri khas: lebih ringan logistik dibanding Sawa Wedana; umum pada ngaben massal desa adat.

 

3. Ngaben Swasta (tanpa sawa/pengganti)

ü  Kapan dipilih: Bila jasad tidak ada/tidak dapat dihadirkan (hilang di laut, bencana, atau sebab lain).

ü  Inti prosesi:

ü  Pangawak/arca pengganti: dibuat sebagai representasi badan kasar almarhum dari bahan-bahan suci (mis. kayu cendana, daun/bahan tetumbuhan, benang, dan sarana upakara).

ü  Rangkaian ngaben: prosesi serupa—arak-arakan, pembakaran pangawak dalam patulangan, pengumpulan abu simbolik, nganyut, lalu upacara pasca-ngaben (nyekah/mukur).

ü  Ciri khas: fokus pada tatanan niskala/rohani; secara tattwa statusnya setara untuk mengantarkan atma.

 

Unsur yang sama pada ketiganya

o   Tujuan: Pitra Yadnya—mengembalikan unsur Panca Mahabhuta ke alam dan mengantar atma menuju leluhur (Dewa Pitara).

o   Penentu hari: selalu memakai dewasa ayu menurut sabda Sulinggih/pemangku.

o   Sarana: banten/upakara, bade/wadah, patulangan (lembu atau bentuk lain), gamelan/baleganjur (opsional adat setempat).

o   Puncak: pembakaran (api Brahma), pengumpulan sisa (tulang/abu), nganyut ke segara/tukad.

o   Pasca: nyekah/mukur dan kemudian ngelinggihang Dewa Hyang di merajan.

 

Catatan penting

Ø  Tata cara dan istilah bisa berbeda antar desa adat (desa–kala–patra) dan kesepakatan keluarga; beberapa daerah juga mengenal ngaben massal, serta sub-jenis seperti upacara untuk anak (ngelungah).

Ø  Detail teknis sebaiknya mengikuti tuntunan Sulinggih/pemangku dan awig-awig setempat.

ARTI FUSI DALAM BERBAGAI BIDANG

 


Fusi secara umum berarti "penggabungan" atau "peleburan" dari beberapa hal menjadi satu. Dalam konteks ilmiah, arti spesifiknya tergantung bidangnya:

 

1. Fisika/Nuklir:

-       Penggabungan dua inti atom ringan menjadi satu inti yang lebih berat, melepaskan energi (contoh: reaksi di Matahari/Hydrogen Bomb).

-       Bedanya dengan fisi: fisi adalah pemecahan inti berat jadi ringan (reaktor nuklir/bom atom).

 

2. Biologi:

-       Penggabungan sel, gen, atau unsur biologis; contoh: fusi sel somatik, fusi protoplasma.

 

3. Umum:

-       Penggabungan ide, budaya, perusahaan, atau elemen menjadi satu kesatuan yang baru.

 

4. Teknologi:

-       Contoh: fusi data (menggabungkan informasi dari sumber berbeda).

 

5. Astronomi:

-       Proses pembakaran bintang yang mengubah hidrogen jadi helium, sumber energi bintang.

PERBEDAAN PENYU DAN KURA – KURANG YANG JARANG DIKETAHUI

 

 

Perbedaan singkatnya: penyu adalah “kura-kura” laut, sedangkan kura biasanya merujuk ke kura-kura air tawar atau kura darat.

 

Ø    Habitat: Penyu hidup di laut dan naik ke pantai hanya untuk bertelur; kura-kura hidup di sungai/danau (air tawar) atau di darat (tortoise).

Ø    Bentuk kaki: Penyu punya “sirip” pipih untuk berenang; kura-kura air tawar berkaki berselaput dengan cakar; kura darat berkaki kekar seperti gajah.

Ø    Cangkang & leher: Cangkang penyu lebih datar/streamlined dan penyu tidak bisa menarik kepala sepenuhnya; kebanyakan kura-kura bisa menarik kepala dan cangkang biasanya lebih kubah/tebal.

Ø    Garam & “air mata”: Penyu punya kelenjar garam di dekat mata (terlihat seperti “menangis” saat di darat); kura-kura tidak.

Ø    Perilaku: Penyu bermigrasi jarak jauh antar samudra; kura-kura umumnya berpindah di area kecil.

Ø    Makan: Penyu tergantung spesies (mis. penyu hijau dewasa lebih herbivora, penyu sisik makan spons/karang lunak); kura-kura air tawar kebanyakan omnivora; kura darat umumnya herbivora.

Ø    Reproduksi: Keduanya bertelur, tapi penyu selalu bertelur di pantai berpasir dan semua spesiesnya dilindungi; kura-kura bertelur di darat dekat habitatnya dan perlindungannya bervariasi.

DAFTAR RUMAH ADAT,ALAT MUSIK,TARIAN,SENJATA,LAGU,BAHASA DAN PAKAIAN ADAT SELURUH PROVINSI DI INDONESIA

 


 

- Aceh

    - Rumah adat: Rumoh Aceh/Krong Bade

    - Alat musik: Serune Kalee, Rapai

    - Tarian: Seudati, Saman

    - Senjata: Rencong

    - Lagu: Bungong Jeumpa

    - Bahasa: Aceh

    - Pakaian adat: Ulee Balang

 

- Sumatera Utara

    - Rumah adat: Bolon

    - Alat musik: Gondang (Gordang Sambilan)

    - Tarian: Tor-Tor

    - Senjata: Piso Surit

    - Lagu: Sinanggar Tulo

    - Bahasa: Batak

    - Pakaian adat: Ulos

 

- Sumatera Barat

    - Rumah adat: Gadang

    - Alat musik: Saluang

    - Tarian: Piring, Payung

    - Senjata: Karih (keris Minang)

    - Lagu: Ayam Den Lapeh

    - Bahasa: Minangkabau

    - Pakaian adat: Bundo Kanduang

 

- Riau

    - Rumah adat: Selaso Jatuh Kembar

    - Alat musik: Gambus Melayu

    - Tarian: Zapin, Joget Lambak

    - Senjata: Pedang Jenawi

    - Lagu: Soleram, Lancang Kuning

    - Bahasa: Melayu Riau

    - Pakaian adat: Teluk Belanga & Kebaya Labuh

 

- Kepulauan Riau

    - Rumah adat: Belah Bubung

    - Alat musik: Gambus

    - Tarian: Tandak

    - Senjata: Pedang Jenawi

    - Lagu: Segantang Lada

    - Bahasa: Melayu

    - Pakaian adat: Belanga (Teluk Belanga)

 

- Jambi

    - Rumah adat: Panjang

    - Alat musik: Gendang Melayu

    - Tarian: Sekapur Sirih

    - Senjata: Keris

    - Lagu: Injit-Injit Semut

    - Bahasa: Melayu Jambi

    - Pakaian adat: Melayu Jambi

 

- Sumatera Selatan

    - Rumah adat: Limas

    - Alat musik: Gendang

    - Tarian: Putri Bekhusek, Tanggai

    - Senjata: Keris

    - Lagu: Cuk Mak Ilang, Gending Sriwijaya

    - Bahasa: Palembang (Melayu Sumsel)

    - Pakaian adat: Aesan Gede

 

- Bangka Belitung

    - Rumah adat: Rumah Rakit/Limas

    - Alat musik: Gendang Melayu

    - Tarian: Zapin

    - Senjata: Siwar Panjang

    - Lagu: Cik Minah

    - Bahasa: Melayu Bangka

    - Pakaian adat: Paksian

 

- Bengkulu

    - Rumah adat: Rakyat/Pusako Bubung Limo

    - Alat musik: Dol

    - Tarian: Andun

    - Senjata: Keris, Rudus

    - Lagu: Lalan Belek

    - Bahasa: Bengkulu/Rejang

    - Pakaian adat: Bengkulu

 

- Lampung

    - Rumah adat: Nuwou/Nowou Sesat

    - Alat musik: Gamolan Pekhing

    - Tarian: Melinting

    - Senjata: Payan, Golok

    - Lagu: Sang Bumi Ruwa Jurai

    - Bahasa: Lampung

    - Pakaian adat: Tulang Bawang

 

- DKI Jakarta

    - Rumah adat: Betawi

    - Alat musik: Tanjidor, Tehyan

    - Tarian: Lenggang Nyai, Yapong

    - Senjata: Golok

    - Lagu: Kicir-Kicir, Jali-Jali

    - Bahasa: Betawi

    - Pakaian adat: Abang–None

 

- Banten

    - Rumah adat: Kesepuhan

    - Alat musik: Angklung Buhun, Gendang

    - Tarian: Topeng

    - Senjata: Kujang

    - Lagu: Ronggeng Banten

    - Bahasa: Sunda/Banten

    - Pakaian adat: Pengantin Banten

 

- Jawa Barat

    - Rumah adat: Kasepuhan/Sunda

    - Alat musik: Angklung

    - Tarian: Jaipong, Merak

    - Senjata: Kujang

    - Lagu: Bubuy Bulan

    - Bahasa: Sunda

    - Pakaian adat: Kebaya Sunda

 

- Jawa Tengah

    - Rumah adat: Joglo

    - Alat musik: Gamelan

    - Tarian: Bambangan Cakil, Gambyong

    - Senjata: Keris

    - Lagu: Lir-Ilir, Gundul Pacul

    - Bahasa: Jawa

    - Pakaian adat: Kebaya/Surjan

 

- DI Yogyakarta

    - Rumah adat: Bangsal Kencono, Joglo

    - Alat musik: Gamelan

    - Tarian: Serimpi

    - Senjata: Keris

    - Lagu: Suwe Ora Jamu

    - Bahasa: Jawa

    - Pakaian adat: Paes Ageng/Surjan

 

- Jawa Timur

    - Rumah adat: Joglo (Jawa Timuran)

    - Alat musik: Gamelan, Angklung Caruk

    - Tarian: Remo, Reog Ponorogo

    - Senjata: Clurit

    - Lagu: Rek Ayo Rek

    - Bahasa: Jawa, Madura

    - Pakaian adat: Pesa’an (Madura)

 

- Bali

    - Rumah adat: Gapura Candi Bentar

    - Alat musik: Gamelan Bali, Ceng-Ceng

    - Tarian: Legong

    - Senjata: Keris/Blakas

    - Lagu: Janger, Meyang-Meyong

    - Bahasa: Bali

    - Pakaian adat: Payas Agung

 

- Nusa Tenggara Barat (NTB)

    - Rumah adat: Dalam Loka (Samawa/Sumbawa)

    - Alat musik: Gendang Beleq

    - Tarian: Gendang Beleq, Mpaa Lenggogo

    - Senjata: Keris

    - Lagu: Lonto Lonte

    - Bahasa: Sasak, Samawa

    - Pakaian adat: Lombok (Pengantin Sasak)

 

- Nusa Tenggara Timur (NTT)

    - Rumah adat: Musalaki, Mbaru Niang

    - Alat musik: Sasando

    - Tarian: Perang, Gareng Lameng

    - Senjata: Sundu

    - Lagu: Anak Kambing Saya

    - Bahasa: beragam (Timor, Sumba, Flores)

    - Pakaian adat: Tenun ikat NTT

 

- Kalimantan Barat

    - Rumah adat: Panjang

    - Alat musik: Sapek/Sampe

    - Tarian: Monong

    - Senjata: Mandau

    - Lagu: Cik Cik Periuk

    - Bahasa: Melayu, Dayak

    - Pakaian adat: Perang Dayak

 

- Kalimantan Tengah

    - Rumah adat: Betang

    - Alat musik: Japen/Sapek

    - Tarian: Balean Dadas, Tambun & Bungai

    - Senjata: Mandau

    - Lagu: Manasai

    - Bahasa: Dayak Ngaju

    - Pakaian adat: Dayak Kalteng

 

- Kalimantan Timur

    - Rumah adat: Lamin

    - Alat musik: Sampe/Sapek

    - Tarian: Kancet Ledo (Tari Gong)

    - Senjata: Mandau

    - Lagu: Bebilin

    - Bahasa: Dayak, Kutai

    - Pakaian adat: Urang Besunung (Dayak)

 

- Kalimantan Selatan

    - Rumah adat: Bubungan Tinggi

    - Alat musik: Panting

    - Tarian: Baksa Kembang

    - Senjata: Keris, Anak Mandau

    - Lagu: Ampar-Ampar Pisang

    - Bahasa: Banjar

    - Pakaian adat: Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut

 

- Kalimantan Utara

    - Rumah adat: Baloy

    - Alat musik: Sundu

    - Tarian: Kancet Ledo

    - Senjata: Mandau

    - Lagu: Bebilin, Jugit Demaring

    - Bahasa: Tidung, Dayak

    - Pakaian adat: Dayak/Tidung

 

- Sulawesi Utara

    - Rumah adat: Walewangko

    - Alat musik: Kolintang

    - Tarian: Maengket

    - Senjata: Pedang Bara Sangihe

    - Lagu: O Ina Ni Keke

    - Bahasa: Minahasa (Tonsea, Tontemboan, dkk.)

    - Pakaian adat: Minahasa (Kabasaran)

 

- Gorontalo

    - Rumah adat: Dulohupa

    - Alat musik: Polopalo, Gambusi

    - Tarian: Saronde, Polo-Polo

    - Senjata: Badik

    - Lagu: Hulondalo Lipu’u

    - Bahasa: Gorontalo

    - Pakaian adat: Bili’u/Paluwala

 

- Sulawesi Barat

    - Rumah adat: Boyang (Mandar)

    - Alat musik: Kecapi Mandar

    - Tarian: Pattuqduq

    - Senjata: Tombak, Badik

    - Lagu: Sayang-Sayang Mandar

    - Bahasa: Mandar

    - Pakaian adat: Pattuqduq Towaine

 

- Sulawesi Selatan

    - Rumah adat: Tongkonan (Toraja), Bola Ugi

    - Alat musik: Gendrang

    - Tarian: Pakarena, Kipas

    - Senjata: Badik

    - Lagu: Anging Mamiri

    - Bahasa: Makassar, Bugis, Toraja

    - Pakaian adat: Baju Bodo

 

- Sulawesi Tenggara

    - Rumah adat: Buton/Laika

    - Alat musik: Lado-Lado

    - Tarian: Lumense, Balumpa

    - Senjata: Parang Taawu/Keris

    - Lagu: Wulele Sanggula

    - Bahasa: Tolaki, Muna, Buton

    - Pakaian adat: Tolaki/Muna

 

- Sulawesi Tengah

    - Rumah adat: Tambi

    - Alat musik: Gimba (gendang)

    - Tarian: Dero, Lumense (varian daerah)

    - Senjata: Pasatimpo

    - Lagu: Tananggu Kaili

    - Bahasa: Kaili, dkk.

    - Pakaian adat: Nggembe

 

- Maluku

    - Rumah adat: Baileo

    - Alat musik: Tifa

    - Tarian: Lenso

    - Senjata: Salawaku

    - Lagu: Ayo Mama

    - Bahasa: Melayu Ambon

    - Pakaian adat: Baju Cele

 

- Maluku Utara

    - Rumah adat: Sasadu

    - Alat musik: Tifa

    - Tarian: Lenso

    - Senjata: Parang Salawaku

    - Lagu: Borero

    - Bahasa: Ternate, Tidore

    - Pakaian adat: Manteren Lamo

 

- Papua Barat

    - Rumah adat: Honai, Kaki Seribu (Arfak)

    - Alat musik: Tifa

    - Tarian: Musyoh, Selamat Datang

    - Senjata: Panah

    - Lagu: Apuse

    - Bahasa: Biak, Arfak, dkk.

    - Pakaian adat: Ewer/Serui

 

- Papua

    - Rumah adat: Honai

    - Alat musik: Tifa

    - Tarian: Musyoh

    - Senjata: Pisau belati, busur–panah

    - Lagu: Yamko Rambe Yamko, Sajojo

    - Bahasa: Sentani, Dani, dkk.

    - Pakaian adat: Koteka/Asmat

LAMA GERHANA MATAHARI

 Singkatnya, durasi gerhana matahari di satu lokasi biasanya 2–3 jam dari awal sampai akhir, sedangkan fase puncaknya bergantung jenisnya:

  1. Total: totalitas umumnya 2–4 menit; maksimum teoritis sekitar 7,5 menit (di dekat garis tengah), bisa tinggal detik di tepi jalur.
  2. Cincin (annular): “cincin api” bisa berlangsung hingga sekitar 10–12 menit; tipikal beberapa menit.
  3. Parsial: tidak ada totalitas/cincin; fase parsial tetap sekitar 2–3 jam dari awal ke akhir.


Durasi dipengaruhi posisi Anda relatif terhadap jalur gerhana, jarak Bumi–Bulan saat itu, dan ketinggian Matahari di langit.



PERBEDAAN REFEREE DAN UMPIRE DALAM OLAH RAGA

 


Keduanya adalah pejabat pertandingan, tapi istilahnya tergantung olahraga dan peran di lapangan.

  • Referee: pemimpin/otoritas utama yang mengendalikan jalannya permainan dan menegakkan aturan sambil bergerak mengikuti permainan (contoh: sepak bola, basket, rugby, tinju/MMA; di American football “referee” adalah ketua kru).
  • Umpire: fokus pada penilaian spesifik dari posisi tertentu (mis. bola/strike, out/safe, bola masuk/keluar garis); dipakai di baseball/softball, cricket, tenis (chair/line umpire), hoki lapangan.
  • Beberapa olahraga memakai keduanya dengan peran berbeda (mis. American football ada “referee” dan juga posisi “umpire” dalam satu kru; tenis punya chair umpire di lapangan dan tournament referee di atasnya).
  • Jadi perbedaannya bukan hierarki universal, melainkan tradisi dan pembagian tugas per olahraga.

PENJELASAN KENAPA AIR KENCING BAU DAN TIDAK BAU

 


Urine bisa berbau atau hampir tidak berbau tergantung konsentrasinya dan zat yang terkandung di dalamnya.

 

Penyebab umum urine berbau:

  • Dehidrasi: urine pekat → urea terurai jadi amonia → bau tajam.
  • Makanan/minuman: asparagus, petai/jengkol, durian, bawang putih, kopi, alkohol.
  • Suplemen/obat: terutama vitamin B kompleks (B6) dan beberapa antibiotik.
  • Infeksi saluran kemih (ISK): bau menyengat/busuk, sering disertai nyeri saat BAK, anyang-anyangan, demam, urine keruh.
  • Ketosis/diabetes: bau manis/fruitty; waspada bila disertai mual, lemas, napas cepat.
  • Masalah hati atau metabolik tertentu: bisa memberi bau tidak biasa.
  • Urine yang dibiarkan: bakteri memecah urea → amonia (mis. pada popok atau toilet tidak segera disiram).
  • Faktor hormonal/menstruasi atau keputihan dapat mengubah bau.

 

Mengapa kadang tidak berbau:

Hidrasi cukup (urine lebih encer), diet netral, dan urine segera dibuang/disiram sehingga tidak sempat terurai jadi amonia.

 

Kapan perlu periksa:

  • Bau kuat yang menetap >1–2 hari tanpa sebab jelas.
  • Disertai nyeri saat BAK, anyang-anyangan, demam, pinggang sakit, urine keruh/berdarah.
  • Bau manis/fruitty pada penderita diabetes atau ibu hamil.

 

Cara sederhana mengurangi bau:

  1. Minum air cukup, jangan menahan BAK.
  2. Batasi pemicu (asparagus, kopi, alkohol, jengkol/petai) bila sensitif.
  3. Jaga kebersihan area genital; ganti popok segera; ventilasi kamar mandi baik.

PERBEDAAN FOOD, MEAL DAN DISH

 

 

Ø  Food: makanan secara umum; bahan yang dimakan (biasanya uncountable: some/much food).

Ø  Meal: satu sesi makan pada waktu tertentu, atau satu paket hidangan lengkap (countable: a meal, two meals).

Ø  Dish: satu hidangan/masakan tertentu dalam sebuah meal (countable: a dish, several dishes).

 

Catatan:

1.     much food, many meals, many dishes.

2.     have a meal, order a dish, buy/cook food.

 

Contoh:

a)     I need to buy some food for the week.

b)    We had a big meal last night.

c)     We ordered three dishes to share.

d)    That was the best meal I’ve had in months.

e)     What’s your favorite dish?

FABEL : SUNGAI DAN BATU

 

 

Seekor sungai yang mengalir deras bertemu dengan batu besar di tengahnya. Sungai tersebut mencoba untuk menggerakkan batu, tetapi batu tidak bergeser. Sungai tersebut merasa frustrasi dan marah. Namun, setelah beberapa waktu, sungai sadar bahwa batu dapat menjadi tempat untuk beristirahat dan menikmati pemandangan.

 

Soal dan Jawaban:

 

1. Q: Apa yang dilakukan sungai terhadap batu?

A: Sungai mencoba untuk menggerakkan batu.

2. Q: Mengapa sungai frustrasi?

A: Karena batu tidak bergeser.

3. Q: Apa yang disadari oleh sungai?

A: Sungai sadar bahwa batu dapat menjadi tempat untuk beristirahat dan menikmati pemandangan.

4. Q: Apa yang dapat kita pelajari dari cerita ini?

A: Kita dapat belajar untuk melihat sisi positif dari kesulitan.

5. Q: Apa pesan moral dari cerita ini?

A: Kita perlu menerima dan menghargai kesulitan sebagai kesempatan untuk belajar.

 

Pesan Moral: Kita perlu menerima dan menghargai kesulitan sebagai kesempatan untuk belajar.

FABEL : BUNGA DAN LEBAH

 

 

Seekor bunga yang indah dan harum hidup di taman. Suatu hari, seekor lebah datang dan mengunjungi bunga untuk mengambil madu. Bunga tersebut merasa bahwa lebah hanya memanfaatkan dirinya dan tidak peduli dengan keindahannya. Namun, lebah menjelaskan bahwa tanpa bunga, lebah tidak dapat membuat madu yang lezat.

 

Soal dan Jawaban:

 

1. Q: Apa yang dilakukan lebah terhadap bunga?

A: Lebah mengambil madu dari bunga.

2. Q: Mengapa bunga merasa tidak puas?

A: Karena bunga merasa bahwa lebah hanya memanfaatkan dirinya.

3. Q: Apa yang dijelaskan oleh lebah kepada bunga?

A: Lebah menjelaskan bahwa tanpa bunga, lebah tidak dapat membuat madu yang lezat.

4. Q: Apa yang disadari oleh bunga?

A: Bunga sadar bahwa lebah juga membutuhkan dirinya.

5. Q: Apa pesan moral dari cerita ini?

A: Kita perlu menghargai hubungan timbal balik.

 

Pesan Moral: Kita perlu menghargai hubungan timbal balik.

FABEL : MATAHARI DAN HUJAN

 

 

Matahari dan hujan adalah dua sahabat yang berbeda. Matahari suka bersinar cerah, sedangkan hujan suka turun dengan deras. Suatu hari, matahari dan hujan bertengkar karena tidak ada yang mau mengalah. Namun, setelah beberapa waktu, mereka sadar bahwa keduanya dibutuhkan untuk membuat bumi menjadi indah dan subur.

 

Soal dan Jawaban:

 

1. Q: Apa yang dilakukan matahari dan hujan?

A: Matahari dan hujan bertengkar.

2. Q: Mengapa matahari dan hujan bertengkar?

A: Karena tidak ada yang mau mengalah.

3. Q: Apa yang disadari oleh matahari dan hujan?

A: Keduanya dibutuhkan untuk membuat bumi menjadi indah dan subur.

4. Q: Apa yang terjadi pada bumi jika hanya ada matahari atau hanya ada hujan?

A: Bumi tidak akan menjadi indah dan subur.

5. Q: Apa pesan moral dari cerita ini?

A: Kita perlu menerima dan menghargai perbedaan.

 

Pesan Moral: Kita perlu menerima dan menghargai perbedaan.

FABEL : POHON DAN BAYANGAN

 

 

Seekor pohon yang besar dan kuat berdiri di tepi sungai. Suatu hari, pohon tersebut melihat bayangannya sendiri di air dan merasa tidak puas dengan bentuknya. Pohon tersebut meminta bayangannya untuk berubah menjadi lebih besar dan lebih indah. Namun, bayangan tidak dapat berubah karena itu hanya refleksi dari pohon itu sendiri. Pohon tersebut sadar bahwa keindahan sebenarnya ada pada dirinya sendiri.

 

Soal dan Jawaban:

 

1. Q: Apa yang dilakukan pohon terhadap bayangannya?

A: Pohon meminta bayangan untuk berubah.

2. Q: Mengapa pohon ingin mengubah bayangannya?

A: Karena pohon tidak puas dengan bentuknya.

3. Q: Apa yang disadari oleh pohon?

A: Pohon sadar bahwa keindahan sebenarnya ada pada dirinya sendiri.

4. Q: Apa yang tidak dapat dilakukan oleh bayangan?

A: Bayangan tidak dapat berubah.

5. Q: Apa pesan moral dari cerita ini?

A: Kita harus menerima dan menghargai diri sendiri apa adanya.

 

Pesan Moral: Kita harus menerima dan menghargai diri sendiri apa adanya.

FABEL : BINTANG DAN AWAN

 

 

Di langit yang luas, hiduplah seekor bintang yang bercahaya sangat terang. Suatu hari, seekor awan yang lembut dan putih datang dan meminta bintang untuk mengurangi cahayanya karena membuat awan merasa tidak terlihat. Bintang setuju dan mengurangi cahayanya. Namun, tanpa cahaya bintang, dunia menjadi gelap dan tidak ada yang dapat melihat awan lagi. Awan sadar bahwa tanpa bintang, awan tidak ada artinya.

 

Soal dan Jawaban:

 

1. Q: Apa yang dilakukan bintang untuk awan?

A: Bintang mengurangi cahayanya.

2. Q: Mengapa awan meminta bintang untuk mengurangi cahayanya?

A: Karena awan merasa tidak terlihat.

3. Q: Apa yang terjadi pada dunia tanpa cahaya bintang?

A: Dunia menjadi gelap.

4. Q: Apa yang disadari oleh awan?

A: Awan sadar bahwa tanpa bintang, awan tidak ada artinya.

5. Q: Apa pesan moral dari cerita ini?

A: Kita perlu menghargai keunikan dan kelebihan orang lain.

 

Pesan Moral: Kita perlu menghargai keunikan dan kelebihan orang lain.

Series SMA: Trio Kucing Garong (TKJ) Series 5: Lomba Puisi Anti-Mainstream

 

Di akhir semester, ada lomba baca puisi bertema "Keindahan Alam". Aji, Bima, dan Citra dipaksa ikut oleh guru Bahasa Indonesia.

Bima, si logis, membuat puisi tentang "Siklus Air dan Pentingnya Evaporasi". Citra membuat puisi tentang "Awan Estetik dan Selfie di Puncak Gunung".

Giliran Aji. Ia tidak suka puisi mainstream. Ia maju ke depan panggung dengan serius dan mulai mendeklamasikan:

"Oh, nyamuk yang hinggap di pipi, Kau adalah bagian dari ekosistem. Meski suaramu mengganggu tidurku, Dan gigitanmu meninggalkan bekas merah, Namun tanpamu, rantai makanan pasti putusJadilah nyamuk yang bermanfaat, bukan sekadar pemuas darah!"

Semua penonton terdiam. Hanya Citra yang bertepuk tangan heboh sambil merekam. Juri bingung harus memberi nilai berapa. Mereka akhirnya memberikan "Penghargaan Orisinalitas Paling Tidak Jelas" kepada Aji. Aji bangga, Bima mengelus dada, dan Citra langsung membuat story di media sosial dengan judul: "Aji Dinyamukki! Puisi Paling Absurd Abad Ini!"

Series SMA: Trio Kucing Garong (TKJ) Series 4: Misteri Bola Basket yang Pecah

 

Di lapangan basket, terjadi tragedi. Bola basket kesayangan tim sekolah tiba-tiba pecah. Semua menuduh Bima, karena ia yang terakhir memegang bola.

"Aku cuma mendribel biasa! Aku bersumpah!" bela Bima.

Aji, yang suka menjadi detektif amatir, angkat bicara. "Tenang! Biarkan Detektif Aji beraksi! Ada tiga kemungkinan: Sabotase, Keterlaluan, atau Kesalahan Teknis. Bima bukan tipe Sabotase, dan mendribel tidak mungkin Keterlaluan."

Citra sibuk mengambil angle foto bola yang pecah. "Aku curiga sama rumput di sini. Terlalu tajam. Bisa jadi ini Rumput Iblis," usul Citra sambil fokus pada filter Instagram.

Aji lalu memeriksa rumput di sekitar Bima. Tiba-tiba, ia menemukan sesuatu. "Bima! Lihat ini! Ada duri Landak!"

Ternyata, bola itu memantul di dekat semak-semak tempat Landak lewat. Durinya yang tajam menusuk bola persis saat Bima mendribel. Mereka akhirnya membersihkan nama Bima dan menyalahkan Landak yang tidak bertanggung jawab. Bima hanya bisa menghela napas, "Sudah kubilang, aku cuma sial."

Series SMA: Trio Kucing Garong (TKJ) Series 3: Drama Cekcok di Kantin Berebut Kursi

Jam istirahat adalah medan perang, dan kursi kantin adalah hadiah termahal. Trio ini selalu punya ritual wajib: berebut kursi di dekat kipas angin.

Hari itu, kursi idaman mereka sudah diduduki oleh tiga senior kelas 12 yang dikenal pendiam dan selalu serius belajar sambil makan.

"Bim, enggak enak ganggu senior," bisik Citra.

Aji menyambar, "Enggak bisa! Kalau kita makan di sana, udara panas, keringat menetes, nanti foundation aku luntur!" (Aji memang suka pakai foundation tipis).

Aji lalu mendekati meja senior, pura-pura bersin kencang. "Haatchiii! Aduh, alergi parah sama... meja yang ada di sana. Sepertinya meja ini harus segera disterilkan. Permisi, Kak!"

Para senior yang terkejut oleh drama fake alergi Aji, langsung berdiri dan pergi sambil membawa buku-buku mereka, enggan berurusan dengan Aji.

Bima dan Citra buru-buru duduk. "Aji, jurus terburukmu berhasil lagi. Tapi aku enggak jamin kita besok enggak dikunciin di toilet sama mereka," kata Bima sambil menyantap baksonya dengan rasa bersalah.

Series SMA: Trio Kucing Garong (TKJ) Series 2: Proyek Sains "Kulkas Tanpa Listrik"

 

Guru Fisika, Pak Broto, memberikan tugas proyek yang menantang: membuat kulkas sederhana tanpa menggunakan listrik. Bima, yang percaya pada fisika murni, serius merancang pendingin dengan sistem penguapan air. Aji dan Citra? Mereka punya ide yang... unik.

"Kita butuh media pendingin yang alami," kata Aji sambil menggaruk dagu. "Aku tahu! Kita pakai es batu abadi!"

Bima menggeleng. "Mana ada es batu abadi, Ji? Logika!"

Citra lalu menyodorkan toples kaca besar. "Kita bawa koleksi ulat Glow in the Dark milikku. Konon, suhu tubuh mereka sangat dingin. Kita sebut saja Bio-Kulkas Ulat GID."

Bima melotot. "Itu bioluminesens, Cit, bukan pendingin! Itu ulat! Bau!"

Tapi Aji sudah bersemangat. Mereka lalu meletakkan satu kaleng soda di dalam toples ulat tersebut. Saat presentasi, soda itu memang dingin, tapi toplesnya penuh lendir ulat. Pak Broto terdiam. "Ini... inovasi yang menjijikkan. Tapi sodanya dingin. Nilai estetika nol, nilai pendinginan 5. Kalian lulus bersyarat!"

Series SMA: Trio Kucing Garong (TKJ) Series 1: Hilangnya Kaos Kaki Keberuntungan

 

Karakter Utama:

·       Aji: Si paling modis, tapi random.

·       Bima: Si paling logika, tapi sering kena sial.

·       Citra: Si paling santai, ahli selfie.

Hari Senin pagi adalah neraka bagi Aji. Ia panik mencari "Kaos Kaki Keberuntungan" bergambar bebek yang selalu ia pakai saat ulangan Sejarah.

"Bim, Cit! Gawat! Kaos kakiku hilang! Aku enggak bisa ulangan tanpa soulmate kakiku itu!" rengek Aji, menggeledah tas Bima yang sedang makan nasi uduk.

Bima, dengan mulut penuh, menjawab, "Ji, itu cuma kaos kaki. Lagipula, keberuntunganmu lebih sering bikin kita dihukum, bukan lulus ulangan."

"Hussh! Jangan bilang gitu!" Aji lalu melihat ke bawah meja dan berteriak, "Nah, itu dia!"

Ternyata, Citra yang datang terlambat buru-buru memakai kaos kaki itu tadi pagi karena kaos kakinya sendiri basah. "Oh, ini kaos kaki bebekmu? Maaf, Ji. Tapi lumayan, aku tadi lancar lari kejar-kejaran sama Pak Satpam!" kata Citra santai sambil mengangkat kaki.

Aji langsung terduduk lemas. "Sudah dipakai? Keberuntungan itu sudah tercemar bau keringat lari sprint. Tamat riwayatku di pelajaran Sejarah!" Bima dan Citra hanya bisa tertawa melihat drama berlebihan Aji.